Enter Header Image Headline Here

Jumat, 19 April 2013

Asuhan Keperawatan Dispepsia



1.    Pengertian
                        Dispepsia merupakan kumpulan keluhan/gejala klinis yang terdiri dari rasa tidak enak/sakit di perut bagian atas yang menetap atau mengalami kekambuhan keluhan refluks gastroesofagus klasik berupa rasa panas di dada (heartburn) dan regurgitasi asam lambung kini tidak lagi termasuk dispepsia (Mansjoer A edisi III,2000 hal : 488). Batasan dispepsia terbagi atas dua yaitu:
a.         Dispepsia organik, bila telah diketahui adanya kelainan organik sebagai       penyebabnya
            b.         Dispepsia non organik, atau dispepsia fungsional, atau dispepsia non ulkus (DNU), bila tidak jelas penyebabnya.
    
     2.    Anatomi dan Fisiologi
            a.         Anatomi
Lambung terletak oblik dari kiri ke kanan menyilang di abdomen atas tepat dibawah diafragma. Dalam keadaan kosong lambung berbentuk tabung J, dan bila penuh berbentuk seperti buah alpukat raksasa. Kapasitas normal lambung 1 sampai 2 liter.

Secara anatomis lambung terbagi atas fundus, korpus dan antrum pilorus. Sebelah atas lambung terdapat cekungan kurvatura minor, dan bagian kiri bawah lambung terdapat kurvatura mayor. Sfingter kedua ujung lambung mengatur pengeluaran dan pemasukan. Sfingter kardia atau sfingter esofagus bawah, mengalirkan makanan yang masuk kedalam lambung dan mencegah refluks isi lambung memasuki esofagus kembali. Daerah lambung tempat pembukaan sfingter kardia dikenal dengan nama daerah kardia. Disaat sfingter pilorikum berelaksasi makanan masuk kedalam duodenum, dan ketika berkontraksi sfingter ini akan mencegah terjadinya aliran balik isis usus halus kedalam lambung.

            Lambung terdiri dari empat lapisan yaitu :
                        1.         Lapisan peritoneal luar yang merupakan lapisan serosa.
                        2.         Lapisan berotot yang terdiri atas 3 lapisan :
                                    a.         Serabut longitudinal, yang tidak dalam dan   bersambung 
                                       dengan otot esophagus.
       b.         Serabut sirkuler yang palig tebal dan terletak di pylorus serta membentuk otot sfingter, yang berada dibawah lapisan pertama.
                                    c.         Serabut oblik yang terutama dijumpai pada fundus 
                                    lambung dan berjalan dari orivisium kardiak, kemudian 
                                     membelok kebawahmelalui kurva tura minor (lengkung kelenjar).
    
                        3.         Lapisan submukosa yang terdiri atas jaringan areolar berisi pembuluh darah dan saluran limfe.
4.         Lapisan mukosa yang terletak disebelah dalam, tebal, dan terdiri atas banyak kerutan/ rugae, yang menghilang bila organ itu mengembang karena berisi makanan. Ada beberapa tipe kelenjar             pada lapisan ini dan dikategorikan menurut bagian anatomi lambung yang ditempatinya. Kelenjar kardia berada dekat orifisium kardia. Kelenjar ini mensekresikan mukus. Kelenjar fundus atau     gastric terletak di fundus dan pada hampir selurus korpus lambung.
                       
                 Kelenjar gastrik memiliki tipe-tipe utama sel. Sel-sel zimognik atau chief cells mensekresikan pepsinogen. Pepsinogen diubah menjadi pepsin dalam suasana asam. Sel-sel parietal mensekresikan asam    hidrokloridadan faktor intrinsik. Faktor intrinsik diperlukan untuk   absorpsi vitamin B 12 di dalam usus halus. Kekurangan faktor intrinsik akan mengakibatkan anemia pernisiosa. Sel-sel mukus (leher) ditemukan dileher fundus atau kelenjar-kelenjar gastrik.

Sel-sel ini mensekresikan mukus. Hormon gastrin diproduksi oleh sel G yang terletak pada pylorus lambung. Gastrin merangsang kelenjar gastrik untuk menghasilkan asam hidroklorida dan pepsinogen. Substansi lain yang disekresikan oleh lambung adalah enzim dan berbagai elektrolit, terutama ion-ion natrium, kalium, dan klorida.

Persarafan lambung sepenuhnya otonom. Suplai saraf parasimpatis untuk lambung dan duodenum dihantarkan ke dan dari abdomen melalui saraf vagus. Trunkus vagus mempercabangkan ramus gastrik, pilorik, hepatik dan seliaka. Pengetahuan tentang anatomi ini sangat penting, karena vagotomi selektif merupakan tindakan pembedahan primer yang penting dalam mengobati tukak duodenum.

Persarafan simpatis adalah melalui saraf splenikus major dan ganlia seliakum. Serabut-serabut aferen menghantarkan impuls nyeri yang dirangsang oleh peregangan, dan dirasakan di daerah epigastrium.
Serabut-serabut aferen simpatis menghambat gerakan dan sekresi lambung. Pleksus saraf mesentrikus (auerbach) dan submukosa (meissner) membentuk persarafan intrinsik dinding lambung dan mengkordinasi aktivitas motoring dan sekresi mukosa lambung.

Seluruh suplai darah di lambung dan pankreas (serat hati, empedu, dan limpa) terutama berasal dari daerah arteri seliaka atau trunkus seliaka, yang mempecabangkan cabang-cabang yang mensuplai kurvatura minor dan mayor. Dua cabang arteri yang penting dalam klinis adalah arteri gastroduodenalis dan arteri pankreas tikoduodenalis (retroduodenalis) yang berjalan sepanjang bulbus posterior duodenum. Tukak dinding postrior duodenum dapat mengerosi arteria ini dan menyebabkan perdarahan. Darah vena dari lambung dan duodenum, serta berasal dari pankreas, limpa, dan bagian lain saluran cerna, berjalan kehati melalui vena porta.


            b.         Fisiologi
                        Fisiologi Lambung :
                        1.         Mencerna makanan secara mekanikal.
                        2.         Sekresi, yaitu kelenjar dalam mukosa lambung mensekresi 1500 – 3000 mL gastric juice (cairan lambung) per hari. Komponene utamanya yaitu mukus, HCL (hydrochloric acid), pensinogen, dan air.Hormon gastrik yang disekresi langsung masuk kedalam aliran darah.
                       3.         Mencerna makanan secara kimiawi yaitu dimana pertama kali protein dirobah menjadi polipeptida
                        4.         Absorpsi, secara minimal terjadi dalam lambung yaitu absorpsi air, alkohol, glukosa, dan beberapa obat.
     5.         Pencegahan, banyak mikroorganisme dapat dihancurkandalam lambung oleh HCL.
      6.         Mengontrol aliran chyme (makanan yang sudah dicerna dalam lambung) kedalam duodenum. Pada saat chyme siap masuk   kedalam duodenum, akan terjadi peristaltik yang lambat yang             berjalan dari fundus ke pylorus

     3.    Etiologi
            a.         Perubahan pola makan
            b.         Pengaruh obat-obatan yang dimakan secara berlebihan dan dalam waktu yang                           lama
            c.         Alkohol dan nikotin rokok
            d.         Stres
            e.         Tumor atau kanker saluran pencernaan

     4.    Manifestasi Klinik
            a.         Nyeri perut (abdominal discomfort)
            b.         Rasa perih di ulu hati
            c.         Mual, kadang-kadang sampai muntah
            d.         Nafsu makan berkurang
            e.         Rasa lekas kenyang
            f.          Perut kembung
            g.         Rasa panas di dada dan perut
            h.         Regurgitasi (keluar cairan dari lambung secara tiba-tiba)
     5.    Patofisiologi
Perubahan pola makan yang tidak teratur, obat-obatan yang tidak jelas, zat-zat       seperti nikotin dan alkohol serta adanya kondisi kejiwaan stres, pemasukan makanan menjadi          kurang sehingga lambung akan kosong, kekosongan lambung dapat mengakibatkan erosi pada lambung akibat gesekan antara dinding-dinding lambung, kondisi demikian dapat      mengakibatkan peningkatan produksi HCL yang akan merangsang terjadinya kondisi        asam pada lambung, sehingga rangsangan di medulla oblongata membawa impuls muntah             sehingga intake tidak adekuat baik   makanan maupun cairan.

     6.    Pencegahan
Pola makan yang normal dan teratur, pilih makanan yang seimbang dengan             kebutuhan dan jadwal makan yang teratur, sebaiknya tidak mengkomsumsi        makanan yang berkadar asam tinggi, cabai, alkohol, dan pantang rokok, bila harus   makan obat karena sesuatu penyakit, misalnya sakit kepala, gunakan obat secara        wajar   dan tidak mengganggu fungsi lambung.
    
     7.    Penatalaksanaan Medik
            a.         Penatalaksanaan non farmakologis
                   1.         Menghindari makanan yang dapat meningkatkan asam lambung
2.         Menghindari faktor resiko seperti alkohol, makanan yang peda, obat-          obatan yang berlebihan, nikotin rokok, dan stres
3.         Atur pola makan
            b.         Penatalaksanaan farmakologis yaitu:
Sampai saat ini belum ada regimen pengobatan yang memuaskan terutama dalam mengantisipasi kekambuhan. Hal ini dapat dimengerti karena pross patofisiologinya pun masih belum jelas. Dilaporkan bahwa sampai 70 % kasus DF reponsif terhadap placebo.
    
Obat-obatan yang diberikan meliputi antacid (menetralkan asam lambung) golongan antikolinergik (menghambat pengeluaran asam lambung) dan prokinetik (mencegah terjadinya muntah)


     8.    Test Diagnostik
Berbagai macam penyakit dapat menimbulkan keluhan yang sama, seperti halnya pada sindrom dispepsia, oleh karena dispepsia hanya merupakan kumpulan gejala dan penyakit disaluran pencernaan, maka perlu dipastikan penyakitnya. Untuk memastikan
penyakitnya, maka perlu dilakukan beberapa pemeriksaan, selain     pengamatan jasmani, juga perlu diperiksa : laboratorium, radiologis, endoskopi,             USG, dan lain-lain.
            a.         Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium perlu dilakukan lebih banyak ditekankan untuk menyingkirkan penyebab organik lainnya seperti: pankreatitis kronik, diabets mellitus, dan lainnya. Pada dispepsia fungsional biasanya hasil laboratorium dalam batas normal.
            b.         Radiologis
Pemeriksaan radiologis banyak menunjang dignosis suatu penyakit di saluran makan. Setidak-tidaknya perlu dilakukan pemeriksaan radiologis terhadap saluran makan bagian atas, dan sebaiknya menggunakan kontras ganda.
            c.         Endoskopi (Esofago-Gastro-Duodenoskopi)
Sesuai dengan definisi bahwa pada dispepsia fungsional, gambaran endoskopinya normal atau sangat tidak spesifik.
            d.         USG (ultrasonografi)
Merupakan diagnostik yang tidak invasif, akhir-akhir ini makin banyak dimanfaatkan untuk membantu menentukan diagnostik dari suatu penyakit, apalagi alat ini tidak menimbulkan efek samping, dapat digunakan setiap saat dan pada kondisi klien yang beratpun dapat dimanfaatkan
            e.         Waktu Pengosongan Lambung
Dapat dilakukan dengan scintigafi atau dengan pellet radioopak. Pada dispepsia fungsional terdapat pengosongan lambung pada 30 – 40 % kasus.

0 comments:

Posting Komentar

Recent Posts

Categories

Unordered List

*

  • Web
  • Blog Anda
  • Text Widget

    Blog Archive

    Total Tayangan Halaman

    Diberdayakan oleh Blogger.
    Kajian.Net